Home > Chamim Thohari, Kumpulan Makalah dan Artikel, Makalah Pemikiran Tokoh Islam, Makalah Sejarah Peradaban dan Pemikiran Islam > Khulafa’ Al-Rasyidin (Ide dan Realitas Khilafah pada Awal Islam)

Khulafa’ Al-Rasyidin (Ide dan Realitas Khilafah pada Awal Islam)

Khulafa’ Al-Rasyidin

(Ide dan Realitas Khilafah pada Awal Islam)

Chamim Tohari, M. Sy.

images (1)Sejarah mencatat, bahwa sepeninggal Nabi Muhammad saw, beliau digantikan oleh keempat orang sahabat terdekat, yakni Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Mereka kemudian dikenal dengan sebutan Khulafa’ Al-Rasyidin, yaitu para khalifah yang mendapatkan petunjuk dari Allah. Disebut demikian karena dibanding dengan rata-rata khalifah setelahnya, mereka masih tetap konsisten menjaga apa yang pernah dicontohkan oleh Nabi berupa akhlak dan petunjuk-petunjuk Allah khususnya dalam menjalankan kekhilafahan.

A. Bentuk Kekhilafahan dan Sistemnya

Sebelum jenazah Nabi saw dimakamkan, telah ada sekelompok sahabat dari kaum Anshar yang berkumpul di balai pertemuan Bani Saidah membicarakan tentang siapa pengganti Rasul saw sepeninggalnya. Pertemuan itu secara spontan diadakan dan pertama muncul wacana pengangkatan salah seorang sahabat Anshar yang bernama Sa’ad bin Ubadah sebagai khalifah. Mendengar hal tersebut segeralah Umar mendatangi kediaman Nabi untuk meminta Abu Bakar yang masih berada dalam rumah Nabi, untuk diajak ikut dalam pertemuan itu. Semula Abu Bakar menolak, tetapi setelah mendengar penjelasan tentang keadaan yang membutuhkannya terlibat, maka iapun akhirnya menerima untuk hadir. Di tengah perjalanan Umar dan Abu Bakar bertemu dengan Abu Ubaidah bin Jarah, lalu ia pun ikut bergabung.[1]

Sesampainya di balai pertemuan telah terjadi perdebatan sengit antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin. Hampir tidak dapat menguasai diri, Umar ingin angkat bicara, tetapi Abu Bakar mencegahnya, lalu denga nada tenang Abu Bakar mulai berbicara. Beliau memberikan pertimbangan tentang kriteria pengganti Nabi, lalu mengajukan dua tokoh Quraisy, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarah untuk dipilih salah satunya. Orang-orang Anshar sangat terkesan dengan penjelasan Abu Bakar dan tampak berharap kepadanya, namun segera Umar berdiri dan menunjuk Abu Bakar menjadi khalifah sebagai pengganti Nabi saw. Menurutnya, Abu Bakar jauh lebih tepat daripada dirinya, karena Abu Bakar orang kepercayaan Nabi. Jika beliau udzur menjadi imam shalat, maka Abi Bakarlah yang diminta untuk menggantikannya. Atas dasar itu hadirin tidak keberatan untuk menerima Abu Bakar sebagai khalifah. Umar segera membaiat Abu Bakar dan menyatakan kesetiaannya, kemudian diikuti oleh Abu Ubaidah, serta para sahabat-sahabat.[2]

Berbeda dengan cara pemilihan Abu Bakar, Umar menjadi khalifah dengan cara ditunjuk oleh khalifah sebelumnya. Ketika Abu Bakar jatuh sakit selama 15 hari, setelah tiga tahun menjalankan pemerintahannya, ia meminta Umar bin Khattab menggantikannya sebagai imam shalat. Semakin hari sakitnya semakin parah sehingga beliau khawatir jika suatu saat meninggal dan belum ada penggantinya yang siap, maka akan terjadi pertentangan seperti yang terjadi setelah wafatnya Nabi. Untuk itu Abu Bakar mulai melakukan konsultasi tertutup dengan sebagian sahabat senior yang ketepatan menjenguknya. Di antaranya adalah Abdurrahman bin Auf, Usman bin Affan, dan Asid bin Khudhair. Pada dasarnya semua sahabat mendukung pilihan Abu Bakar ini. Meskipun ada yang memberi catatan tentang sikap Umar yang keras, seperti Abdurrahman. Namun Abu Bakar meyakinkannya bahwa sikap keras Umar selama ini karena mengimbangi sikap Abu Bakar yang lunak. Maka menurut Abu Bakar, setelah memimpin kelak, tentu sikap Umar akan lebih lunak dari yang sekarang.[3]

Setelah berkonsultasi Abu Bakar meminta agar hasilnya tidak disampaikan kepada publik. Abu Bakar benar-benar yakin bahwa tidak ada seorangpun yang yang dapat mengambil tanggung jawab kekhalifahan yang berat itu selain Umar. Thabari menulis bahwa Abu Bakar naik diatas balkon rumahnya dan berbicara kepada orang banyak yang berkerumun di bawah:” Apakah kalian akan menerima orang yang saya calonkan menjadi penggantiku? Saya bersumpah bahwa saya melakukan yang terbaik dalam menentukan hal ini, dan saya telah memilih Umar bin Khattab sebagai penggantiku. Dengarkanlah saya dan ikutilah keinginan-keinginan saya.” Mereka semua berkata serempak, “Kami telah mendengar anda dan kami akan menaati anda.” Kemudian Abu Bakar memerintahkan Usman untuk menulis pesannya agar kelak Umar menggantikan kepemimpinannya.[4] Akhirnya, sepeninggal Abu Bakar pada 624 H, Umar bin Khattab dikukuhkan sebagai khalifah yang kedua dalam acara baiat umum dan terbuka di masjid Nabawi.

Berbeda dengan cara pertama dan kedua, pengangkatan Usman bin Affan menjadi khalifah penganti Umar. Beliau diangkat berdasarkan sistem formatur. Seperti diketahui dalam sejarah, Umar bin Khattab jatuh sakit karena enam kali tikaman oleh salah seorang Persia, Abu Lu’luah.[5] Datanglah sejumlah sahabat senior menjenguk Umar. Karena kesehatannya semakin memburuk, mereka yang datang menjenguk Umar khawatir akan terjadi perpecahan di kalangan umat Islam kalau beliau wafat dan belum ada penggantinya.[6]

Akhirnya para sahabat senior meminta Umar untuk menentukan calon penggantinya sebagai khalifah. Umar mengajukan enam orang sahabat senior yang kelak harus memilih salah satu di antara mereka sendiri untuk menjadi khalifah. Mereka itu adalah Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, Saad bin Abi Waqqas, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Abdullah bin Umar, tetapi yang terakhir ini tanpa hak suara.[7]

Setelah Umar wafat, lima dari enam sahabat tersebut bertemu untuk membahas pengganti Umar, sementara Talhah bin Ubaidillah saat itu tidak sedang berada di Madinah. Sejak awal pertemuan itu mengalami kesulitan, dan Abdurrahman bin Auf berusaha menjembatani agar salah seorang diantara mereka bersedia mengundurkan diri dengan sukarela, dan memberi kesempatan kepada salah seorang calon yang memang paling tepat untuk dipilih sebagai khalifah. Tak seorangpun yang mau mengundurkan diri, hingga Abdurrahman sendiri yang menyatakan mundur untuk dicalonkan. Akhirnya calon yang akan dipilih tinggal empat orang. [8]

Mengalami jalan buntu, maka Abdurrahman bermusyawarah dengan tokoh-tokoh selain keempat sahabat tersebut. Ternyata di luar telah terjadi pengelompokan yang masing-masing mendukung Ali dan Usman. Selanjutnya Abdurrahman menanyakan Ali, jika bukan dirinya, siapa yang patut menjadi khalifah. Ali menjawab “Usman”. Pertanyaan serupa diajukan kepada Zubair dan Saad, jawabnya adalah “Ali”. Jelaslah bahwa calon akhirnya tinggal dua orang: Ali dan Usman.

Tahap berikutnya Abdurrahman memanggil Ali dan menanyakan kesediaannya menjalankan tugas berat jika seandainya dipilih. Ali menjawab bahwa dirinya berharap dapat berbuat sejauh kemampuan dan pengetahuannya (insya Allah). Abdurrahman melakuka hal yang sama kepada Usman, dan jawabnya:”Ya saya sanggup”. Berdasarkan pernyataan Usman yang dinilai lebih tegas itu maka Abrurrahman menetapkannya sebagai khalifah ketiga penggantu Umar. Sebenarnya Ali kecewa atas cara Abdurrahman ini, dan menyangkanya telah sejak semula merencanakan hal ini dengan Usman. Sebab jika Usman terpilih menjadi khalifah, berarti pula kelompok Abdurrahman yang berkuasa.[9]

Dua belas tahun kemudian Ali diangkat menjadi khalifah yang keempat sebagai pengganti Usman yang terbunuh oleh para pemberontak. Pemilihan Ali dilakukan dengan cara yang jauh dari sempurna dibandingkan dengan pemilihan-pemilihan sebelumnya. Setelah para pemberontak membunuh Usman, mereka mendesak Ali agar bersedia diangkat menjadi khalifah. Tetapi Ali menolaknya, sebab saat itu para tokoh sahabat senior banyak yang berada di luar wilayah Madinah untuk melakukan kunjungan. Sedangkan sahabatt senior yang masih berada di Madinah sangat sedikit jumlahnya, seperti Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam, dan lainnya seperti Abdullah bin Umar dan Saad bin Abi Waqqas yang menolak Ali. Ali tetap menolak desakan kaum pemberontak, dan malah menanyakan dimana peserta perang Badar, dimana Thalhah, Zubair dan Saad, karena merekalah yang lebih berhak menentukan tentang siapa yang harus menjadi khalifah. Muncullah tiga tokoh sahabat senior itu, lalu membaiat Ali. Segeralah diikuti orang banyak, baik dari kaum Muhajirin maupun Anshar. Orang yang pertama kali berbaiat kepada Ali adalah Thalhah bin Ubaidillah.[10]

Terdapat perbedaan antara cara pemilihan Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Dalam pemilihan Abu Bakar maupun Usman, meskipun semula ada yang menentangnya, tetapi setelah diputuskan, maka semua orang membaiatnya dan berjanji setia kepadanya. Namun dalam pemilihan Ali, setelah ditetapkan sebagai khalifah, masih terdapat sebagian orang yang menolaknya, dalam arti tidak membaiatnya, termasuk Muawiyah bin Abu Sufyan, gubernur Syria yang juga keluarga Usman. Alasannya karena Ali harus mempertanggungjawabkan terbunuhnya Usman. Selain itu karena wilayah Islam sudah semakin meluas tidak hanya di Madinah saja, maka tidak cukup hak penentuan calon pemilih tidak hanya ada pada mereka yang berada di Madinah. Sikap Muawiyah ini akhirnya diikuti oleh sebagian tokoh dan manyarakat yang lain. Hal ini menjadi benih konflik pada perkembangan sejarah Islam berikutnya.

Meskipun keempat Khulafa’ Al-Rasyidin ini mempunyai gaya dan watak yang berbeda-beda, tetapi corak dan gaya kepemimpinannya sangat konsisten mendasarkan apa yang pernah dicontohkan Nabi saw. Dalam hubungan dengan sistem pemerintahan, mereka sama-sama mendasarkan diri pada prinsip-prinsip Islam sebagai berikut:

1. Prinsip Musyawarah. Di dalam mengambil keputusan-keputusan penting menyangkut kepentingan publik, mereka mengadakan musyawarah dengan para tokoh sahabat yang lain.

2. Jabatan khalifah adalah amanah dari Allah, karenanya khalifah dan pemerintahan hendaknya bersifat terbuka dan bersifat absolut.

3.  Prinsip baiat. Baiat adalah pernyataan akan adanya pengakuan dan janji setia dari rakyat untuk mengikuti khalifah terpilih. Baiat dilakukan setelah adanya transaksi sosial antara pihak khalifah dan pihak rakyat.

4.  Teknik pemilihan antara khalifah yang satu dengan yang lain memang tidak ada yang sama. Namun demikian terdapat unsure kesamaannya, yaitu unsur kesamaannya, yaitu sistem pemilihannya tidaklah dengan penunjukan langsung kepada putera raja sebagaimana cara yang dipakai dalam sistem monarkhi absolute di Romawi, Persia, maupun di kerajaan-kerajaan Islam setelah Khulafa’ Al-Rasyidin sejak Muawiyah menjadi khalifah pertama pada 41 H/ 661 M.[11]

B. Kepemimpinan dan Kontribusi di Bidang Peradaban

Pada sub bab ini akan di bahas kepemimpinan keempat khalifah serta kontribusinya dalam bidang pengembangan peradaban Islam.

1. Abu Bakar As-Siddiq (11-13 H/632-634 M)

Pada masa kepemimpinan Abu Bakar yang hanya dia tahun itu banyak mengalami hambatan dan tantangan seperti munculnya nabi palsu, pemberontakan kaum munafik dan murtad, dan oposisi kelompok penentang zakat. Hal ini disebabkan oleh munculnya kembali fanatisme kesukuan masyarakat Arab, belum kuatnya dasar-dasar keagamaan yang dimiliki oleh sebagian masyarakat yang jauh dari kota Madinah, dan lahirnya kembali lawan-lawan politik Islam yang dahulu di masa Nabi Muhammad belum sepenuhnya mengakui pemerintahan Madinah.[12]

Secara politik, suatu pemerintahan yang terpusat, yang menuntut dan menerima kesetiaan orang-orang, belum dikenal di Arabia, yang mana suku-sukunya hidup dalam kebebasan yang sempurna. Lebih-lebih suku-suku Arab membenci kekuasaan di Madinah, ibukota imperium Islam pada waktu itu. Kepemimpinan Madinah menjadi tak tertahankan oleh semangat bebas suku-suku Arab.

Pembayaran zakat dianggap sebagai penurunan kekuasaan dan kewibawaan bagi suku-suku di Arabia. Sebenarnya keberatan mereka bukan terhadap Islam, tetapi terhadap zakat. Keadaan menjadi sangat genting. Madinah sendiri terancam oleh gerombolan Badui yang dipelopori oleh suku Ghatafan yang kuat. Para sahabat menganjurkan agar khalifah mengikuti kebijakan yang lunak. Terhadap usul tersebut khalifah menjawab dengan marah:”Kalian begitu keras dimasa jahiliyah, tetapi setelah Islam kalian menjadi begitu lemah. Wahyu-wahyu Allah telah berhenti, agama kita telah sempurna. Sekarang haruskah Islam dibiarkan dirusak dalam masa hidupku? Demi Allah seandainya mereka menahan sehelai benang pun (dari zakat), saya akan memerintahkan untuk memerangi mereka.”[13]

Tidak kalah hebatnya dari para penentang Islam pada masa ini, yaitu munculnya orang-orang yang mengaku sebagai nabi. Mereka adalah Aswad Ansi di Yaman, kemudian Musailamah al-Kadzab, kemudian Tulaiha yang disambut sebagai nabi Bani Ghatafan, dan Sajah, seorang perempuan berasal dari suku Bani Yarbu di Arabia Tengah.

Abu Bakar meyakini bahwa tantangan ini sangatlah serius akibatnya bagi kesinambungan dakwah Islam, manakala tidak segera diselesaikan. Oleh karena itu pada tahun pertama kepemimpinannya beliau memfokuskan program-programnya kepada upaya penyelesaian upaya ini. Baru kemudian di tahun kedua beliau meneruskan ekspansi wilayah di luar semenanjung Arabia sebagaimana yang pernah dirintis oleh Nabi saw dan belum mencapai tujuannya. Sebelum menangani urusan penting luar negeri, Abu Bakar menyelesaikan terlebih dahulu masalah-masalah penting dalam negeri.[14]

Khalid bin Walid dikirim untuk melawan Tulaiha, Ikrimah dan Sharabil bin Hasan dikirim untuk melawan Musailamah, dan Zuber dikirim untuk memerangi Aswad Ansi di Yaman. Khalid berhasil mengalahkan Tulaiha, Zuber berhasil membunuh Aswad Ansi, dan Musailamah berhasil dibunuh. Peperangan lainnya yang dilakukan oleh para jenderal muslim terhadap orang-orang murtad dilakukan di Bahrain, Oman dan Yaman. Maka berakhirlah seluruh gerakan kemurtadan yang juga disebut Perang Riddah.[15]

Dalam pada itu Usamah kembali dengan memperoleh kemenangan dari ekspedisi Syria. Kemudian khalifah menugasi Usamah untuk mempertahankan kota.

Kontribusi Abu Bakar yang paling menonjol bagi peletakan dasar-dasar kesinambungan peradaban Islam adalah dua hal. Pertama, mengembalikan kebulatan keyakinan terhadap ajaran Islam, mengintegrasikan masyarakat dan politik Islam yang berpusat di Madinah sebagaimana dahulu pernah diletakkan oleh Nabi saw. Kembalinya kaum muslimin kepada ajaran Islam dan pengakuan atas pemerintahan Islam yang berpusat di Madinah merupakan dasar yang kokoh bagi pengembangan cita-cita dakwah dan politik Islam. Kedua, Abu Bakar mengirim kekuatan keluar Arabia. Khalid bin Walid memimpin delegasi ke Iraq dan dapat menguasai daerah Hirah pada tahun 634 M. Sementara untuk Syiria di kirim pasukan di bawah pimpinan Abu Ubaidah, Amr bin Ash, Yazid bin Abi Sufyan, dan Syuhrabil. Sebelumnya pasukan di pimpin oleh Usamah yang masih berusia 18 tahun. Untuk memperkuat pasukan ini, Khalid bin Walid yang semula dikirim ke Iraq, diperintahkan menuju ke Syiria melalui gurun pasir yang amat sulit, dan akhirnya semua itu dapat dicapai. Inilah kontribusi kedua Abu Bakar untuk meneruskan cita-cita Nabi dalam pengembangan wilayah dakwah Islam.[16]

2. Umar bin Khattab (13-24 H/634-644 M)

  Pada prinsipnya program-program yang dijalankan oleh khalifah Umar bin Khattab adalah meneruskan upaya awal yang pernah dirintis oleh pendahulunya, Abu Bakar, khususnya program pengiriman pasukan untuk ekspansi wilayah diluar Arabia. Ekspansi pertama dilancarkan ke ibukota syiria, Damaskus, Ardan dan Hins yang berhasil dikuasai hingga pada 635 M. Setahun kemudian setelah pasukan Byzantium kalah dalam pertempuran Yarmuk, seluruh daerah Syria dapat dikuasai oleh pemerintahan Islam. Melalui Syria ini penguasaan Mesir dilakukan dengan pimpinan Amru bin Ash, sementara ke Iraq dibawah pimpinan Saad bin Abi Waqqas. Hingga pada 641 M kedua negeri ini resmi masuk ke wilayah pemerintahan Islam. Al-Qadisiyah, sebuah kota dekat Hirah di Iraq, jatuh pada 637 M. Dari kota ini serangan baru dilancarkan ke Persia, dimana kota Madain jatuh pada tahun ini juga. Pada 641 M Mosul dapat dikuasai. Dengan demikian pada masa Umar wilayah Islam telah meliputi seluruh semenanjung Arabia, palestina, Syiria dan Mesir. Dapat dikatakan bahwa sebagian wilayah Romawi masuk ke dalam pemerintahan Islam yang berpusat di kota Madinah.[17]

Perluasan wilayah dimasa Umar ini memang sangat cepat dan berhasil dengan gemilang. Maka hal ini menuntut Umar untuk lebih memperhatikan masalah administrasi dan menejemen negara. Untuk itu beliau mulai memasukkan beberapa unsur administrasi dari imperium Persia yang telah lama mempunyai pengalaman dalah hal administrasi negara. Pemerintahan dibagi menjadi delapan propinsi: Mekkah, Madinah, Syria, Jazirah, Basrah, Kufah, Palestina dan Mesir. Beberapa departemen didirikan. Sistem pembayaran gaji serta pajak ditertibkan. Lembaga Yudikatif dan Eksekutif dipisahkan dengan mendirikan pengadilan khusus. Baitul mal sebagai bank negara diadakan sehingga keuangan pemerintahan semakin lancar pengelolaannya.[18]

Dari penjelasan singkat di atas, dapatlah disimpulkan ada dua hal besar yang disumbangkan Umar untuk peradaban Islam. Pertama, perluasan dan penguasaan wilayah-wilayah baru yang berada diluar semenanjung Arabia, bahkan telah memasuki sebagian besar wilayah Persia dan Romawi. Kontribusi ini tidak dapat di ungguli oleh ketiga Khalifah al-Rasyidah yang lain. Kedua, mengadakan dan memperbaiki administrasi pemerintahan yang sebelumnya tidak dikenal. Bagi masyarakat Arab saat itu apa yang ditawarkan Umar adalah sesuatu yang baru dan luar biasa. Bukti menunjukkan bahwa dengan administrasi dan manajemen yang lebih baik maka sangatlah membantu percepatan dan keberhasilan perluasan pemerintahan Islam. Salah satu kontribusi Umar yang lebih penting bagi perkembangan peradaban Islam adalah penetapan kalender Hijriyah bagi kaum muslimin. Disamping itu, ide pertama kali muncul untuk melakukan pembukuan mushaf al-Qur’an adalah dari beliau, meskipun realisasinya yang paling maksimal ada pada masa Usman.[19]

3. Usman bin Affan (24-36 H/644-656 M)

Para ahli sejarah mencatat, bahwa enam tahun yang awal kepemimpinan Usman efektif dan cukup berhasil. Namun  pada enam tahun berikutnya kepemimpinanya tidak lagi efektif, bahkan mengalami degradasi hingga pada akhirnya melahirkan suatu pemberontakan yang menyebabkan kematiannya.

Keberhasilannya dibuktikan dengan kemampuannya meneruskan ekspansi wilayah hingga berhasil ditaklukkannya Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhades, Transoxania, Tabaristan, serta sebagian wilayah yang tersisa dari Persia. Namun ekspansi wilayah Islam yang pertama berhenti di sini. Di samping itu ia berhasil membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar dan mengatur pembagian suplai air ke kota-kota. Ia juga membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, masjid-masjid, termasuk perluasan masjid Nabawi di Madinah. Ia juga sebagai tokoh yang memprakarsai pengumpulan dan penulisan mushaf al-Qur’an yang di anggap paling sempurna sehingga sampai hari ini menjadi standar tulisan al-Qur’an yang biasa disebut Mushaf Usmani.

Adapun pemerintahannya di paruh kedua dipenuhi dengan benih-benih konflik. Lahir pemberontakan, kecurigaan-kecurigaan tidak dapat dihindarkan, sehingga pemerintahannya tidak lagi efektif. Diduga pemberontakan itu dilakukan oleh para pendukung Ali. Karena itu dikala Ali dipilih menjadi khalifah, Muawiyah tidak mengakuinya, karena ia menganggap bahwa Ali berada di belakang pemberontakan itu, dan Ali berkewajiban menyelesaikan kasus itu.

Kelemahan Usman tersebut disebabkan usianya yang semakin tua. Di saat itu ia telah berusia 70 tahun. Sikapnya yang terlalu lunak disebabkan anggota-anggota keluarganya yang dekat diberi jabatan-jabatan di pemerintahan. Kekayaannya yang melimpah dan sifatnya yang dermawan itu membuatnya kurang memperhatikan soal administrasi keuangan. Terkadang hal ini memungkinkan penilaian orang luar yang negatif kepadanya berkenaan dengan penggunaan uang negara. Meskipun sebenarnya khalifah sama sekali tidak pernah menyalahgunakan uang negara, bahkan beliau tidak mengambil uang yang menjadi haknya dari perbendaharaan negara. Malah justeru banyak sekali uang pribadi yang ia gunakan untuk keperluan negara tanpa ia perhitungkan.

Pemerintahan Usman mendapat tekanan dari kaum pemberontak karena beberapa hal: Pertama, mereka melihat Bani Umayah memperoleh kedudukan yang tinggi di dalam negara dan mereka makmur dengan kekayaan dan hak-hak istimewa.

Kedua, di dalam kekhalifahan Usman, Bani Umayah benar-benar telah menghilangkan reputasi Bani Hasyim. Ketua Bani Hasyim, Ali, kehilangan pengaruh dan kedudukan di dalam kekhalifahan Usman. Oleh karena itu, mereka tidak menyukai Usman dan Bani Umayah.  Selain itu, kaum Anshar dari Madinah merasa kedudukan dan pengaruh mereka menjadi hilang. Mereka tidak memperoleh bagian apapun dalam dalam hierarki imperium Islam.

Ketiga, pengangkatan Marwan bin Hakam sebagai sekretaris negara benar-benar tidak disukai umum. Marwan seorang yang mementingkan diri sendiri dan suka intrik. Kebijakannya selalu memecah belah Bani Hasyim dan Bani Umayah. Selain itu, Usman terkenal kurang tegas karena sikapnya yang murah hati dan sederhana.[20]

Rasa tidak puas terhadap khalifah Usman menjalar. Di Kufah dan Basrah rakyat bangkit menentang gubernur-gubernur yang diangkat oleh khalifah Usman. Hingga akhirnya para pemberontak menyelinap masuk ke kota Madinah, mereka mengepung rumah khalifah. Pada saat yang berbahaya itu para sahabat dan kerabat tidak sedang menemani Usman. Pada tanggal 17 Juni 656 M para pemberontak menyerbu rumah Usman, dua orang bangsa Mesir membunuh khalifah yang telah lanjut usia itu ketika beliau sedang membaca kitab suci al-Qur’an.[21]

4. Ali bin Abi Thalib (36-41 H/656-661 M)

Ali memimpin selama enam tahun. Selama itu pula kepemimpinnya dihadapkan kepada berbagai pergolakan yang akhirnya menimbulkan apa yang oleh sejarah disebut dengan al-Fitnah al-kubra (huru-hara yang dahsyat). Setelah diangkat menjadi khalifah, ia memecat para gubernur yang pernah diangkat oleh Usman, kecuali Muawiyah bin Abi Sufyan, gubernur Syiria. Beliau yakin bahwa berbagai pemberontakan muncul karena keteledoran para gubernur. Tanah-tanah yang pernah dihadiahkan oleh Usman kepada penduduk ia tarik dengan cara menyerahkan hasilnya kepada negara, dan menerapkan kembali kewajiban pajak kepada kaum muslimin sebagaimana pernah diterapkan oleh Umar yang kemudian tidak berlaku.

Persaingan terus berjalan antara Bani Hasyim dengan Bani Umayah.kondisi seperti ini dimanfaatkan oleh Thalhah, Zubair dan Aisyah untuk mengadakan pemberontakan dengan alasan bahwa Ali tidak mau menghukum pembunuh Usman, dan mereka menuntut bela atas kematian Usman. Sebenarnya Ali ingin menghindari peperangan, ia mengajak berunding kepada Thalhah dan Zubair, namun ajakan itu mereka tolak. Akhirnya pecahlah perang yang terkenal dengan sebutan perang jamal, dimana Aisyah berada diatas onta. Peperangan akhirnya dimenangkan oleh pihak Ali, sementara Thalhah dan Zubair terbunuh, sedangkan Aisyah tertawan lalu dikembalikan ke Madinah.

Persaingan antara dua kelompok di atas muncul lagi dalam bentuk lain. Kebijakan-kebijakan Ali yang dianggap tidak menguntungkan pihak Muawiyah akhirnya menimbulkan perlawanan dari unsur gabungan, Muawiyah dan mereka yang kehilangan jabatan. Perlawanan itu kemudian menyebabkan terjadinya perang shiffin. Semula peperangan itu telah dimenangkan oleh pihak Ali, tetapi tiba-tiba pihak Muawiyah menawarkan perdamaian melalui forum tahkim (arbitrase).[22] Dalam arbitrase disepakati untuk tidak melanjutkan peperangan, tetapi kedua belah pihak dapat kembali pada posisi masing-masing. Selepas arbitrase justeru muncul kelompok baru khawarij yang menolak kesepakatan arbitrase yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kelompok ini berseberangan baik kepada Ali maupun kepada Muawiyah. Jadi, di akhir pemerintahan Ali umat Islam telah terpecah menjadi tiga, kelompok pendukung Ali yang nantinya disebut Syi’ah, kelompok Muawiyah yang nantinya mengklaim sebagai kaum sunni, dan kelompok yang keluar dari keduanya yang kemudian disebut Khawarij.[23]

Kondisi demikian jelas tidak menguntungkan pihak Ali. Munculnya kelompok Khawarij melemahkan kekuatan Ali, sementara Muawiyah terus melakukan konsolidasi sehingga pasukannya semakin kuat. Ketidak senangan Khawarij kepada Ali menyebabkan salah seorang pengikutnya yang bernama Abdul-Rahman bin Muljam tega menghabisi nyawa menantu Nabi tersebut pada 20 Ramadhan tahun 40 H/ 660 M, yaitu ketika Ali sedang dalam perjalanan menuju masjid Kufah, ia terkena hantaman pedang beracun di dahinya.[24]

Untuk sementara dalam beberapa bulan Hasan bin Ali meneruskan tugas-tugas ayahnya dalam memimpin. Namun karena Hasan lemah dan Muawiyah sangat kuat, dibuatlah suatu perjanjian damai yang akhirnya mempersatukan seluruh kaum muslimin dalam satu kepemimpinan politik dibawah Muawiyah. Perjanjian ini mengakibatkan Muawiyah menjadi penguasa absolut dalam Islam. Tahun persatuan ini disebut ‘Am al-Jama’ah yang terjadi pada 41 H/ 661 M. Dengan demikian berakhirlah kepemimpinan Khulafa Al-Rasyidin sekaligus dimulai kekuasaan Bani Umayyah dalam sejarah Islam.[25]

C. Kesimpulan

Meskipun hanya berusia 30 tahun, masa republik Islam itu merupakan masa yang paling penting di dalam sejarah. Ia menyelamatkan Islam, mengonsolidasikannya dan meletakkan dasar bagi keagungan umat Islam. Khalifah pertama, Abu Bakar, menyelamatkan umat Islam dari perpecahan karena soal penggantian kepemimpinan setelah wafatnya Nabi saw. Dia juga menyelamatkan Islam dari bahaya besar orang-orang Murtad dan nabi-nabi palsu, dan mempertahankan keyakinan dalam agama yang benar di Arabia. Khalifah kedua, Umar, mengonsolidasikan Islam di Arabia, mengubah anak-anak padang pasir yang liar menjadi bangsa pejuang yang berdisiplin dan menghancurkan kekaisaran Persia dan Romawi., membangun suatu imperium yang sangat kuat yang meliputi Persia, Iraq, Kaldea, Syiria, Palestina dan Mesir. Khalifah ketiga, Usman, menyaksikan ekspansi imperium Arab yang lebih jauh di Asia Tengah dan Tripoli. Pemerintahannya juga patut dikenag karena terbentuknya angkatan laut Arab. Pemerintahan khalifah keempat, Ali, digunakan untuk mengatasi kekacauan-kekacauan di dalam negeri. Dengan wafatnya pada 661 M, republik Islam berakhir.

Daftar Pustaka

Hitti, Philip. History of the Arabs. London: The MacMilan Press,1974.

Ibrahim, Hasan. Tarikh al-Islam. jilid 1V, Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Misriyah,1967.

Mahmudinnasir, Syed. Islam, Konsep dan Sejarahnya, Bandung: Rosdakarya,1988.

Nasution, Harun. Islam di Tinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI Press,1986.

Nurhakim, Muhammad. Sejarah Peradaban Islam, Malang: UMM Press,2004.

Sjadzali, Munawir. Islam dan Tata Negara, Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, Jakarta: UI Press,1993.


[1] Munawir Sjadzali. Islam dan Tata Negara, Ajaran, Sejarah dan Pemikiran. (Jakarta:UI Press, 1993). h.21.

[2] Ibid, h.22.

[3] Ibid, h.23.

[4] Syed Mahmudinnasir.  Islam in Concept and History. (Bandung: Rosdakarya,1998). h. 170.

[5] Mahmudinnasir mengatakan bahwa pembunuh Umar bernama Feros, seorang budak bangsa Persia. Lihat: Ibid, h.184.

[6] Muhammad Nur Hakim. Sejarah Peradaban Islam. (Malang: UMM Press, 2004). h.41.

[7] Ibid, h.42.

[8] Munawir Sjadzali. Islam dan Tata Negara. Op.Cit. h.26-27.

[9] Nurhakim. Sejarah. Op.Cit. h.43.

[10] Munawir Sjadzali. Islam dan Tata Negara. Op.Cit..h.27.

[11] Nurhakim. Sejarah. Op.Cit. h.46.

[12] Hasan Ibrahim. Tarikh al-Islam. jilid 1V. (Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Misriyah,1967). h.78.

 

[13] Syed Mahmudinnasir.  Islam in Concept and History.Op.Cit. h.162-163.

[14] Ibid. h.164.

[15] Ibid. h.164-165.

[16] Nurhakim. Sejarah. Op.Cit. h.47.

[17] Ibid. h.48.

[18] Ibid. h.48.

[19] Ibid. h.49 dan Hasan Ibrahim. Tarikh al-Islam. Op.Cit. h. 79

[20] Syed Mahmudinnasir.  Islam in Concept and History.Op.Cit. h.188-192.

[21] Ibid. h.193.

[22] Harun Nasution.  Islam di Tinjau dari Berbagai Aspeknya. (Jakarta: UI Press, 1986). h.32.

[23] Nurhakim. Sejarah. Op.Cit. h.51-52.

[24] Philip Hitti. History of Arab. (London: The Mac Milan Press, 1974). h. 182.

[25] Nurhakim. Sejarah. Op.Cit. h.52.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: