Archive

Posts Tagged ‘hukum nikah tujuan dan manfaatnya’

Hukum Nikah, Tujuan dan Manfaatnya

November 1, 2012 Leave a comment

Hukum Nikah, Tujuan dan Manfaatnya *

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ , فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ , وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” Muttafaq Alaihi

1. Definisi Nikah

Nikah adalah suatu akad atau perikatan untuk menghalalkan hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan dalam rangka meneruskan keturunan dan mewujudkan kebahagiaan hidup keluarga, yang diliputi rasa ketenteraman serta kasih sayang dengan cara yang diridloi Allah.

2. Hukum Menikah dalam Islam

Meskipun pada dasarnya Islam menganjurkan menikah, apabila ditinjau dari keadaan yang melaksanakannya, pernikahan dapat dikenai hukum wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah.

  1. Pernikahan yang Wajib, apabila orang yang mempunyai keinginan kuat untuk menikah dan telah mempunyai kemampuan secara materil (keuangan) dalam melaksanakan dan memikul beban kewajiban dalam hidup setelah menikah, serta ada kekhawatiran, apabila tidak menikah, ia akan mudah tergelincir untuk berbuat zina.
  2. Pernikahan yang Sunnah, apabila orang yang mempunyai keinginan kuat untuk menikah dan telah mempunyai kemampuan secara materil (keuangan) dalam melaksanakan dan memikul beban kewajiban setelah menikah, tetapi apabila tidak menikah, tidak ada kekhawatiran akan berbuat zina.
  3. Pernikahan yang Haram, apabila orang belum berkeinginan serta tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan memikul beban kewajiban-kewajiban dalam hidup setelah menikah, sehingga apabila menikah akan berakibat menyusahkan isterinya.
  4. Pernikahan yang Makruh, apabila seorang yang mampu dalam segi materil, cukup mempunyai daya tahan mental dan agama hingga tidak khawatir akan terseret dalam perbuatan zina, tetapi mempunyai kekhawatiran tidak dapat memenuhi kewajiban- kewajiban terhadap isterinya, meskipun tidak akan menyusahakan pihak isteri; misalnya, calon isteri tergolong orang kaya atau calon suami belum mempunyai keinginan untuk menikah.
  5. Pernikahan yang Mubah, apabila seorang yang sudah mempunyai harta, tetapi apabila menikah tidak merasa khawatir akan berbuat zina dan apabila menikahkan pun tidak merasa khawatir akan menyia-nyiakan kewajibannya terhadap isteri.

3. Tujuan Menikah

  1. Mendapatkan dan melangsungkan keturunan.
  2. Memenuhi hasrat manusia untuk menyalurkan syahwatnya dan menumpahkan kasih sayangnya.
  3. Memenuhi panggilan agama (ibadah), memelihara diri dari kejahatan dan kerusakan (maksiat).
  4. Menumbuhkan kesungguhan untuk bertanggung jawab menerima hak serta kewajiban, juga bersungguhAbdul sungguh untuk mencari dan memperoleh harta kekayaan yang halal.
  5. Membangun rumah tangga untuk mendapatkan kehidupan yang tenteram atas dasar kasih sayang (sakinah mawaddah wa rahmah).

4. Manfaat menikah

  1.     Menyambung silaturahmi.
  2.     Memalingkan pandangan yang liar.
  3.     Menghindari diri dari perzinaan.
  4.     Memperoleh keturunan (generasi hidup).
  5.     Mengisi dan menyemarakkan Dunia

* Ditulis ulang dari buku “Buku Saku KELUARGA, Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah” Karya  Abdul Rachman, MHI.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.